Edisi Perdana: Merasakan Islam

Kajian Soul edisi perdana (Rabu, 24 Juli 2019) bersama Dr. KHM. Luqman Hakim, M.A. dan Dr. KH. Mustain Syafi’i mengangkat tema besar “Merasakan Islam”.  Dalam kesempatan ini, kedua nara sumber menyampaikan bagaimana nilai-nilai Islam itu dirasakan dengan cara dan sudut pandang yang berbeda, meski keduanya sepakat yang demikian ini pada akhirnya sangat tergantung kepada pengalaman spiritual individu yang sangat subyektif.

Dalam kesempatan ini, pengasuh Ma’had ‘Aly Raudhatul Muhibbin, Caringin, Bogor, tersebut mengingatkan pentingnya merawat hubungan ruhani antara guru, murid dan orang tua. Hal ini disebabkan, lanjutnya, banyak murid saat ini sudah kehilangan orang tua. Di rumah kehilangan orang tua karena orang tuanya sibuk bekerja. Di sekolah juga kehilangan orang tua, yang dalam hal ini adalah guru karena hilangnya spirit ilahiyah pada diri guru pendidik.

Oleh karenanya, di antara hal yang penting dilakukan, sebagaimana telah ditradisikan para kiai dulu yang kini mulai dilupakan, adalah mentradisikan kembali saling mendoakan antara tiga unsur tadi. Anak mendoakan orang tua dan guru. Guru mendoakan murid dan orang tuanya. Orang tua murid mendoakan anak dan guru-guru anak-anaknya.  

Yang demikian itu agar terbangun keterhubungan rasa di antara tiga unsur penting demi terbentuknya generasi yang memiliki jiwa yang hidup, bukan sekedar manusia-manusia fisik tanpa ruh layaknya zombie.

Sementara itu, KH. Mustain Syafi’i menyampaikan beberapa kisah para Nabi dalam al-Quran yang menggambarkan keunikan hubungan antara Allah dengan para utusannya agar bisa dirasakan sebagai bahan i’tibar.

Misalnya, kisah Nabi Ibrahim AS yang berhasil menemukan tuhan dalam pengertian benar-benar menemukan setelah melalui proses pengembaraan teologis yang sangat luar biasa. Bahkan, setelah mengeliminasi bermacam-macam benda hingga akhirnya menemukan Allah, Ibrahim pun masih menguji eksistensi Allah sebagai tuhan. Sehingga, Allah bertanya kepada Ibrarim: apakah kamu meragukanku? Dijawab Ibrahim: untuk memantapkan keyakinanku (liyathma`inna qalbî).

Allah kemudian menunjukkan kuasanya dengan menghidupkan kembali burung yang telah dimutilasi.

Keteguhan hati Ibrahim pun akhirnya bukan main-main. Ibrahim dan keluarganya benar-benar yakin seyakin-yakinnya kepada Allah. Hal ini dibuktikan dengan sejumlah ujian berat yang Allah berikan, namun Ibrahim dan keluarganya berhasil melewatinya dengan sempurna.

Ketika Ibrahim harus meninggalkan istri dan buah hati kesayangannya di padang tandus Makkah, Sang istri bertanya: apakah ini perintah Tuhanmu, wahai Ibrahim? Ibrahim menjawab: Ya, ini perintah Tuhan. “Perintah Tuhan” inilah yang membuat Sang Istri rela dan tegar ditinggal suaminya, sebuah ujian yang mungkin mayoritas perempuan tidak mampu menghadapinya.

Berikutnya, ketika sang buah hati beranjak dewasa, datang perintah Allah yang juga tidak kepalang tanggung. Nabi Ibrahim diperintah menyembelih buah hatinya, Ismail. Ismail yang meyakini bahwa ini adalah perintah Tuhan, tanpa ragu ia menjawab “laksanakan perintah itu, wahai ayah! (yâ abati, if’al mâ tu`mar!). Yang menarik dari kisah ini adalah Nabi Ibrahim menyampaikan perintah ini langsung kepada Sang Anak tanpa mengajak diskusi istrinya. Pelajaran yang bisa dipetik dari kisah ini, menurut Kiai Mustain, adalah terkadang ada sebuah keputusan besar dalam keluarga tidak perlu melibatkan istri. Hal ini sebagai sebuah strategi saja demi terwujudnya sebuah rencana besar. Karena, besar kemungkinan rencana pelaksanaan perintah penyembelihan Sang Anak akan gagal jika terlebih dahulu dilakukan diskusi kepada Sang Istri. (Ahmad Rizal AF/SoulKajian)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *