Ayat Puasa dan Ayat Lebaran: Menuju Taqwa Paripurna

Di antara tradisi unik pasca Ramadhan dan dalam rangka mengisi Hari Raya Idul Fitri yang barang kali hanya ada di Indonesia adalah saling bermaafan. Ia dikenal dengan istilah Halal Bi Halal (HBH). Jika ditelusuri secara tekstual, istilah ini belum kami temukan di dalam literatur khazanah turats. Bahkan, secara bahasa, Halal Bi Halal yang berasal dari Bahasa Arab pun tidak dikenal dalam bahasa tersebut.

Firman Allah yang sering kali dikutip, baik sebagai pembuka sambutan maupun sebagai bahan ceramah adalah Surat Ali ‘Imrân ayat 133 dan 134 berikut ini:

وَسارِعُوا إِلى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّماواتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)

Artinya: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (133). (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (134).

Sebagai “upacara” menyambut “kemenangan” pasca sebulan berpuasa, ada kata kunci yang menghubungkan antara ayat di atas dengan ayat puasa, Al-Baqarah: 183. Jika pada ayat puasa terdapat redaksi “la’allakum tattaqûn”, pada ayat lebaran terdapat redaksi “u’iddat lil muttaqîn”. Kata kuncinya adalah taqwa.

Taqwa pada ayat puasa, meskipun dimensinya (sebagaimana dimensi puasa) juga sosial, namun dimensi teologis ruhaniyah lebih terasa. Sedangkan, taqwa pada ayat lebaran terasa sebaliknya.

Kembali kepada ayat lebaran. Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah memerintahkan untuk bergegas meraih maghfirah dan surga yang telah disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa. Para mufassir beragam dalam memaknai ayat tersebut, namun intinya adalah bergegas menjalankan hal-hal yang menyebabkan diraihnya maghfirah dan surga. Karena, perintah memperoleh sesuatu berarti perintah melakukan prosesnya.

Lantas, siapakah yang dimaksud muttaqin dalam ayat ini? Ayat 134 menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang menginfakkan hartanya baik dalam keadaan lapang (as-sarrâ`) atau sulit (adh-dharrâ`), orang-orang yang menahan amarah, dan orang-orang yang memaafkan manusia. Pada ayat ini, Allah memungkasi firman-Nya dengan pernyataan bahwa diri-Nya mencintai muhsinîn.

Syaikh Abdul Qâdir al-Jîlânî saat menafsirkan ayat tersebut mengatakan bahwa Allah mencintai muhsinin karena segala perbuatan ihsân-nya namun lebih ditekankan bagi perbuatan menahan emosi dan memberikan maaf kepada orang lain. [Tafsir al-Jîlânî, v. I, hal. 307]

Karakter muttaqin berikutnya disebutkan dalam ayat berikutnya, 135, yaitu orang-orang yang jika melakukan dosa atau berbuat lalim terhadap diri mereka sendiri, mereka segera menggingat Allah dan memohon ampunan-Nya.

Terhadap orang-orang dengan kriteria yang disebutkan di atas, Allah menjanjikan ganjaran yang berupa ampunan (maghfirah) dan surga.

Dengan demikian, kombinasi antara ayat puasa dan ayat lebaran bermuara pada pembentukan pribadi yang bertaqwa secara komprehensif yang meliputi dimensi ruhaniyah dan sosial. Yang demikian ini diplikasikan dengan “pendidikan ruhani” selama sebulan di bulan Ramadhan dan dilanjutkan dengan menyelesaikan urusan sosial yang disimbolkan dalam bentuk tradisi saling bermaafan di bulan Syawal sebagai wujud dari wa al-kâzhimîna al-ghaizha dan wa al-‘âfîna ‘an an-nâs, yang lazim dikenal dengan tradisi Halal Bi Halal. Wallâhu a’lam (Ahmad Rizal/SoulKajian)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *