KH. Luqman tentang Masalah Hidup: Refleksi Awal Tahun

Memasuki pergantian tahun, baik Syamsiyah (berdasarkan peredaran semu matahari mengelilingi bumi) maupun Qamariyah (berdasarkan peredaran bulan mengelilingi bumi), sebaiknya kita isi dengan refleksi dan introspeksi.

Selain itu, biasanya juga dilakukan perumusan resolusi dan target-target tertentu yang harus dicapai untuk tahun mendatang. Namun, tidak jarang, di antara kita justru dihinggapi perasaan galau dan takut karena situasi ekonomi, sosial dan lainnya yang serba tidak menentu.

Dalam kajian bulanan Soul pada bulan Januari 2020 lalu, yang bertajuk “Refleksi Awal Tahun: antara Harapan dan Kegalauan”, Dr. KHM. Luqman Hakim menguraikan mengenai kegalauan dan ketakukan tersebut.

Pengasuh Ma’had ‘Aly Raudhatul Muhibbin, Bogor, itu memulai kajian dengan mengutip al-Hikam bahwa selama kita masih hidup di dunia, kita tidak perlu asing dengan problem dan masalah keduniaan.

“Kalau kita ada masalah keduniaan, berarti kita masih di dunia, bukan di kuburan. Sebesar apa pun masalah duniawi kita, jika dibandingkan dengan masalah kita di akhirat kelak, itu tidak ada apa-apanya. Jauh lebih besar masalah di akhirat kelak,” tegas KH Luqman.

Direktur Sufi News itu melanjutkan uraiannya dengan mengatakan bahwa segala kegundahan dan kegalauan seseorang di dunia ini adalah karena ia tidak punya harapan. Atau, bisa jadi ia punya harapan tetapi harapannya salah atau kurang tepat.

Lantas, apakah harapan yang tepat itu? Ini terkait dengan kegalauan. Galau dari apa dan berharap terhadap apa? Mengenai hal ini, ada beberapa level (maqam). Bersambung. Wallâhu a’lam (SoulKajian)