Yang Tersembunyi, Yang Menerangi, Yang Dicintai

حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، ثنا الرَّبِيعُ بْنُ سُلَيْمَانَ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ عَيَّاشِ بْنِ عَبَّاسٍ الْقِتْبَانِيُّ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ، عَنْ أَبِيهِ:

أَنَّ عُمَرَ، خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ يَوْمًا فَوَجَدَ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ عِنْدَ قَبْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبْكِي، فَقَالَ: مَا يُبْكِيكَ يَا مُعَاذُ؟ قَالَ: يُبْكِينِي حَدِيثٌ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ:

«الْيَسِيرُ مِنَ الرِّيَاءِ شِرْكٌ، وَمَنْ عَادَى أَوْلِيَاءَ اللَّهِ فَقَدْ بَارَزَ اللَّهَ بِالْمُحَارَبَةِ، إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْأَبْرَارَ الْأَتْقِيَاءَ الْأَخْفِيَاءَ، الَّذِينَ إِنْ غَابُوا لَمْ يُفْتَقَدُوا، وَإِنْ حَضَرُوا لَمْ يُعْرَفُوا، قُلُوبُهُمْ مَصَابِيحُ الْهُدَى، يَخْرُجُونَ مِنْ كُلِّ غَبْرَاءَ مُظْلِمَةٍ»

Artinya
Abû al-‘Abbâs Muhammad bin Ya’qûb telah menceritakan kepada kami, ar-Rabî’ bin Sulaimân telah menceritakan kepada kami, ‘Abdullâh bin Wahb telah menceritakan kepada kami, al-Laits bin Sa’d telah mengabarkan kepadaku, dari ‘Ayyâsy bin ‘Abbâs al-Qitbânî, dari Zaid bin Aslam, dari Ayahnya:

Sesungguhnya, suatu hari ‘Umar keluar menuju masjid. Ia mendapati Mu’âdz bin Jabal di makam Rasulullah SAW sedang menangis. ‘Umar bertanya: “Apa yang membuatmu menangis, wahai Mu’âdz?” Mu’âdz menjawab: “Aku menangis karena aku pernah mendengar hadits Nabi SAW berikut:”

“Sedikit riya` adalah ­kemusyrikan. Barang siapa memusuhi para kekasih Allah maka ia telah mengobarkan peperangan kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan, orang-orang yang bertakwa, dan orang-orang yang tersembunyi. Yaitu, orang-orang yang jika mereka tidak hadir, tidak dicari, dan jika hadir, tidak dikenali. Hati mereka ibarat lentera pemberi petunjuk, mereka berhasil selamat keluar dari kegelapan.”

***

Hadits di atas diriwayatkan oleh Al-Hâkim dalam al-Mustadrak ‘alâ ash-Shahîhain. Al-Hâkim berkomentar bahwa hadits tersebut adalah shahîh, hanya saja tidak diriwayatkan oleh Bukhârî dan Muslim. Wallâhu a’lam. (SoulKajian)