Shalat Malam dan Tidak Tidur, Ditegur Nabi SAW

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ المُثَنَّى، حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ هِشَامٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي أَبِي، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا امْرَأَةٌ، قَالَ: «مَنْ هَذِهِ؟» قَالَتْ: فُلاَنَةُ، تَذْكُرُ مِنْ صَلاَتِهَا، قَالَ: «مَهْ، عَلَيْكُمْ بِمَا تُطِيقُونَ، فَوَاللَّهِ لاَ يَمَلُّ اللَّهُ حَتَّى تَمَلُّوا» وَكَانَ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَيْهِ مَادَامَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ (رواه البخاري)

Artinya:
Ibnu al-Mutsannâ telah menceritakan kepada kami, Yahyâ telah menceritakan kepada kami, dari Hisyâm, dia berkata: Ayahku telah mengabarkan kepadaku, dari ‘Aisyah:

Sesungguhnya Nabi SAW pulang ke rumah ‘Aisyah dan terdapat seorang perempuan sedang bersama ‘Aisyah. Nabi SAW bertanya: “Siapakah perempuan ini?”. ‘Aisyah menjawab: “Dia adalah Fulanah yang dikenal banyak mengerjakan shalat.”

Kemudian Nabi SAW bersabda: “Tidak perlu begitu, kerjakanlah semampunya. Demi Allah, Allah tidak pernah bosan memberi pahala kepada hamba-Nya sampai hamba tersebut bosan mengerjakan ibadah.” Amal perbuatan yang paling disukai Allah adalah yang di-mudâwamah-kan (konsisten, ajek) oleh pelakunya. (HR. al-Bukhârî)

Penjelasan
Hadits di atas menjelaskan tentang seorang perempuan yang terkenal akan shalatnya. Nabi SAW kemudian “menegurnya” dan memberikan solusi agar beribadah semampunya, tidak perlu berlebihan.

Tentang ibadah shalat perempuan dalam hadits di atas, dalam riwayat Ahmad dari Yahyâ al-Qaththân bahkan menggunakan redaksi “dia tidak tidur, tetapi mengerjakan shalat” dan dalam riwayat lain menggunakan redaksi “dia tidak tidur malam”.

Konteks teguran dalam hadits di atas adalah terkait shalat malam. Qâdhî ‘Iyâdh mengatakan bahwa bisa saja yang dimaksud adalah khusus shalat malam sesuai konteks hadits dan bisa juga disimpulkan kepada hal umum yang terkait dengan semua ibadah.

Ibnu Hajar al-‘Asqalânî mengatakan bahwa konteks hadits di atas adalah shalat malam tetapi yang dimaksud adalah keumuman redaksinya, yakni berlaku umum untuk semua ibadah, bukan hanya shalat malam.

Imam an-Nawawî asy-Syâfi’î berkata: “Amal ibadah yang sedikit tetapi dilakukan secara konsisten adalah indikator ketaatan seseorang kepada Allah, yaitu dengan senantiasa mengingat-Nya, introspeksi, ikhlas dan menerima takdir Allah dengan lapang dada. Berbeda dengan ibadah yang banyak tapi memberatkan. Hingga suatu saat ibadah yang ringan tapi konsisten ini bertambah dan melebihi hingga berlibat ganda ibadah yang banyak tapi memberatkan dan pada akhirnya terputus.”

Dengan demikian, mendirikan Shalat Tahajud dua rakaat dengan kadar yang ringan setiap malam adalah lebih baik dari pada Shalat Tahajud berpuluh-puluh rakaat dengan kadar yang memberatkan tetapi belum tentu sebulan sekali, membaca al-Quran satu halaman setiap usai Shalat Maghrib adalah lebih utama dari pada membacanya berjuz-juz tapi hanya sebulan sekali. Wallâhu a’lam (Ahmad Rizal/SoulKajian)

Referensi:
Al-Bukhârî, al-Jâmi’ ash-Shahîh
Ibnu Hajar al-‘Asqalânî, Fath al-Bâri Syarh Shahîh al-Bukhârî