Dalam Mimpi, Orang Dianggap Gila Dipeluk dan Dikecup Nabi SAW

Dikisahkan bahwa suatu ketika, Abû Bakr bin Mujâhid (w. 936 M.) sedang bersama seseorang. Tiba-tiba, asy-Syiblî (w. 946 M.) datang. Mujâhid langsung memeluk dan menciumnya. Atas kejadian tersebut orang itu  heran dan bertanya kepada Mujâhid: “Wahai tuanku, Anda melakukan itu semua kepada asy-Syiblî sementara penduduk Baghdad menganggapnya sebagai orang gila?”

Mujâhid menjelaskan bahwa dirinya melakukan apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW terhadap asy-Syiblî. Mujâhid melanjutkan penjelasannya: “Dalam mimpi, aku melihat Nabi SAW di suatu tempat. Kemudian asy-Syiblî datang. Menyambut asy-Syiblî, Nabi SAW berdiri dan memeluknya.”

Kejadian tersebut membuat Mujâhid penasaran, apa yang bisa membuat Nabi SAW mencium asy-Syiblî. Mujâhid bertanya kepada Nabi SAW: “Ya Rasulallah, Engkau melakukan itu semua kepada asy-Syiblî?”

Nabi SAW bersabda: “Benar, karena asy-Syiblî selalu membaca Laqad jâ`akum rasûlun min anfusikum… (akhir surat at-Taubah) setiap sehabis shalat dan melanjutkannya dengan membaca shalawat kepadaku.”

Kisah di atas terdapat di antaranya dalam Bustân al-Wâ’izhîn wa Riyâdh as-Sâmi’în karya Jamâluddîn Abû al-Faraj bin ‘Alî al-Jauzî (w. 597 H./1201 M.). Adapun ayat lengkap yang dibaca asy-Syiblî di atas adalah:

لَقَدْ جاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ ما عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُفٌ رَحِيمٌ (١٢٨) فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (١٢٩)

Artinya: Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin (128). Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku: tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan Pemilik ‘Arsy yang agung.” (129). [at-Taubah (9): 128-129)]

Setidaknya, ada dua pelajaran penting dalam kisah di atas.

Pertama, orang yang dianggap hina di dunia ternyata justru memiliki kedudukan yang mulia di langit. Asy-Syibli yang oleh warga setempat dianggap gila, ternyata termasuk orang yang disayang dan dihormati Nabi SAW.

Kedua, kehadiran Nabi SAW dalam mimpi seseorang adalah benar-benar kehadiran Nabi SAW. Itu bukan halusinasi atau setan yang menjelma. Sebab, ada jaminan bahwa setan tidak dapat menjelma menjadi sosok Nabi SAW. Namun, pertanyaannya adalah apakah diri kita sudah cukup layak dan pantas untuk disinggahi manusia paling mulia, Nabi SAW, dalam mimpi?

Alangkah indahnya jika kita bisa berjumpa dan berdialog bersama Sang Kekasih walau dalam mimpi. Wallâhu a’lam. (Ahmad Rizal/SoulKajian)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *