Keistimewaan Bercocok Tanam

Dalam Shahîh Muslim diterangkan tentang keutamaan menanam tanaman dan bercocok tanam sebagai berikut:

حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً، وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ، وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ، وَمَا أَكَلَتِ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ، وَلَا يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَة

Artinya: Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami, ayah saya telah menceritakan kepada kami, Abdul Malik telah menceritakan kepada kami, dari ‘Athâ`, dari Jâbir. Jâbir mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak ada seorang muslim yang menanam tanaman kecuali apa yang dimakan (oleh orang lain) darinya adalah bernilai sedekah untuknya, apa yang dicuri darinya adalah bernilai sedekah, apa yang dimakan binatang buas adalah sedekah, apa yang dimakan burung darinya adalah bernilai sedekah untuknya dan tanaman tersebut tidak dikurangi karena diambil seseorang kecuali baginya adalah bernilai sedekah.”

Penjelasan
Imam Nawawî, saat men-syarah (menjelaskan maksud) hadits tersebut dalam Syarh Shahîh Muslim ibn Hajjâj, mengatakan bahwa hadits tersebut menunjukkan keutamaan menanam dan bercocok tanam. Keduanya akan mendapatkan pahala atas buah dan hasil perkembangbiakan tanaman tersebut terus-menerus sampai hari kiamat selama ia berbuah dan berkembang. Wallâhu a’lam. (Ahmad Rizal/SoulKajian)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *