Pasukan Umar bin Abdul Aziz: Tertangkap Romawi, Dihukum Mati, Baca Al-Qur’an

Alkisah pasukan perang Khalifah Umar bin Abdul Aziz (memerintah tahun 717-720 M) yang tertangkap dan dihukum mati oleh kerajaan Romawi. Ada yang menjadi syahid dan ada yang menjadi pengkhianat. Masing-masing meninggal dalam keadaan membaca ayat al-Qur’an namun dengan konten yang berbeda.

Syahid: Baca Ayat Penerimaan

Salah seorang tawanan ditawari sejumlah hadiah sebagai imbalan jika ia bersedia mengikuti agama Kaisar dan meninggalkan Islam. Jika menolak, hukuman mati dengan dipenggal telah menantinya.

“Aku tidak akan menjual agamaku dengan harta dunia,” tawanan itu menolak tawaran tersebut. Mendengar jawaban ini, Kaisar memerintah algojonya untuk memenggalnya. Kepala tawanan itu jatuh dan berputar-putar di tanah seraya membaca surat al-Fajr ayat 27-30:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ * ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً  * فَادْخُلِي فِي عِبَادِي  * وَادْخُلِي جَنَّتِي

Artinya: Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida lagi diridai-Nya. Masuklah ke dalam golongan hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku. [QS. al-Fajr (89): 27-30]

Melihat kejadian itu, Kaisar marah dan memanggil tawanan kedua dan menawarinya hal yang sama. Sebagaimana tawanan pertama, tawanan kedua menolak tawaran Kaisar dan menerima hukuman yang sama.

Seusai dipenggal, kepala tawanan kedua jatuh ke tanah dan membaca surat al-Hâqqah ayat 21-23:

فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ * فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ  * قُطُوفُهَا دَانِيَةٌ

Artinya: Maka ia berada dalam kehidupan yang diridai. Di surga yang tinggi. Buah-buahannya ada didekatnya.” [QS. al-Hâqqah (69): 21-23]

Pengkhianat: Baca Ayat Siksa

Tiba giliran tawanan ketiga untuk mendapatkan tawaran sekaligus ancaman yang sama dengan pendahulunya. Kali ini, situasi berbeda dengan sebelumnya. Tawanan ketiga bersedia meninggalkan agama Islam demi hadiah. Kaisar segera memerintah stafnya untuk menyiapkan hadiah yang telah dijanjikan.

Namun, seorang menteri memberikan pertimbangan, “Wahai Kaisar, bagaimana kita akan memberinya semua itu tanpa ujian?” Setelah disetujui Kaisar, menteri itu melanjutkan, “Jika kamu benar (mengikuti kami), bunuhlah salah seorang sahabatmu dan kami akan mempercayaimu.” Tanpa ragu, tawanan ketiga ini membunuh sahabatnya sendiri.

Sebelum Kaisar memberikan hadiah, menteri itu mengajukan pertimbangan lagi. “Ini tidak masuk akal. Juga, ini bukan sebuah kecerdasan jika Kaisar membenarkan pembicaraannya. Orang ini tidak menjaga hak saudaranya sendiri yang dilahirkan dan tumbuh bersama. Bagaimana mungkin dia akan menjaga hak kita?” kata menteri itu.

Kaisar menerima pertimbangan itu dan memerintahkan untuk membunuh tawanan itu. Kepala tawanan ketiga ini jatuh ke tanah dan membaca surat az-Zumar ayat 19:

أَفَمَنْ حَقَّ عَلَيْهِ كَلِمَةُ الْعَذابِ أَفَأَنْتَ تُنْقِذُ مَنْ فِي النَّارِ

Artinya: Maka adakah orang yang telah ditetapkan atasnya hukuman (disebabkan kekufurannya, sama seperti orang yang dijanjikan bergembira dengan balasan imannya?). Apakah engkau berkuasa menyelamatkan orang yang (ditetapkan kekal) dalam neraka? [QS. az-Zumar (39): 19]

Kisah di atas terdapat di antaranya dalam al-Mawâ’izh al-‘Ushfûriyyah karya Muhammad bin Abû Bakr al-‘Ushfûrî. Wallâhu a’lam (Ahmad Rizal/SoulKajian)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *