Surat An-Nâs: Allah Tuhan Manusia. Mengapa Bukan Tuhan Semesta Alam?

Dalam surat an-Nâs, Allah SWT berfirman:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ * مَلِكِ النَّاسِ * إِلهِ النَّاسِ

Artinya: Katakanlah: Aku berlindung kepada tuhan manusia, raja manusia, sesembahan manusia [QS. An-Nâs (114): 1-3]

Dalam kutipan ayat di atas, Allah disebutkan sebagai tuhan manusia, raja manusia dan sesembahan manusia. Bukankah Allah adalah tuhan, raja dan sesembahan semesta alam. Mengapa pada ayat di atas hanya disebut tuhan manusia?

Pertama, konteks ayat ini adalah perintah berlindung kepada Allah dari kejahatan atau keburukan manusia. Dengan demikian, seakan-akan Allah berfirman: berlindunglah kepada tuhan mereka yang menguasai segala urusan mereka.

Kedua, ayat ini menegaskan bahwa manusia adalah makhluk paling mulia di seluruh jagat raya (asyraf al-makhlûqât fî al-‘âlam)

Ketiga, yang diperintah untuk memohon perlindungan dalam ayat ini adalah manusia. Jadi, seakan-akan manusia berkata: wahai rabb-ku, wahai rajaku, wahai ilâh-ku. Wallâhu a’lam (Ahmad Rizal/SoulKajian)

Referensi:
Fakhruddîn ar-Razî, Mafâtîh al-Ghaib
Wahbah az-Zuhailî, At-Tafsîr al-Munîr

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *