Jumat: Nabi Adam Dikeluarkan dari Surga, Mengapa Dianggap Peristiwa Agung?

Diriwayatkan dalam Shahîh Muslim, Nabi SAW bersabda:

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ، فِيهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ، وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا

Artinya: Sebaik-baik hari yang matahari terbit di dalamnya adalah hari Jumat. Pada hari itu, Adam diciptakan, dimasukkan ke surga dan dikeluarkan darinya.

Makhluk Terbaik, Diciptakan di Hari terbaik
Hari Jumat adalah hari terbaik. Di dalamnya, sebagaimana hadits di atas, terdapat 3 peristiwa besar: penciptaan Nabi Adam, dimasukkannya Nabi Adam ke surga dan dikeluarkannya darinya. Pesan penciptaan Nabi Adam pada hari Jumat adalah Allah menunjukkan bahwa jenis makhluk yang paling mulia di jagat raya ini (asyraf jins al-‘âlam) diciptakan pada hari yang paling mulia, Jumat. Demikian dikemukakan al-Harawî (w. 1014 H.) dalam Mirqâh al-Mafâtîh.

Dikeluarkan dari Surga, Termasuk Peristiwa Agung?
Perihal penciptaan Nabi Adam dan dimasukkannya ke surga dinilai sebagai peristiwa besar dan agung yang mengandung pesan-pesan positif adalah logis. Bagaimana dengan peristiwa dikeluarkannya Nabi Adam dari surga? Apa hikmah positifnya sehingga ia dikategorikan sebagai peristiwa agung? Bukankah itu adalah sebuah hukuman akibat pelanggaran? Apa hikmahnya peristiwa itu terjadi di hari yang penuh berkah?

Jawaban atas kemusykilan tersebut, di antaranya dikemukakan oleh Al-Muzhirî al-Hanafî (w. 727 H.). Dalam al-Mafâtîh fi Syarh al-Mashâbîh ia mengatakan bahwa pengeluaran Nabi Adam dari surga hakikatnya adalah inti kemaslahatan dan kebaikan (‘ain al-mashlahah wa al-khair).

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa peristiwa penurunan Nabi Adam dari surga ke bumi menjadi wasilah sekaligus titik awal terjadinya segala bentuk kebaikan di dunia ini: mulai diutusnya para Nabi, diturunkannya kitab-kitab suci hingga terjadinya amal-amal shalih yang membawa ridha Allah.

Penekanan Berbuat Kebaikan
Hadits di atas juga terdapat di dalam al-Muwathâ` karya Imam Mâlik. Saat men-syarah hadits tersebut, Abû al-Walîd al-Bâjî al-Andalusî (w. 474 H.) dalam al-Muntaqâ Syarh al-Muwathâ` mengatakan bahwa hadits tersebut mengabarkan bahwa peristiwa-peristiwa besar dan berbagai keistimewaan umumnya terjadi di hari Jumat. Yang demikian ini dalam rangka memberikan penekanan agar pada hari tersebut kaum muslimin memperbanyak melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Wallahu a’lam. (Ahmad Rizal/SoulKajian)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *