Permohonan Penghuni Neraka dan Jawaban Allah

Muhammad bin Ka’b al-Qurazhî, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Baihaqî (w. 458 H./1066 M.), mengatakan bahwa kelak penghuni neraka akan merengek-rengek memohon sambil penuh penyesalan kepada Allah SWT untuk dikeluarkan dari neraka.

Mereka mengajukan sejumlah permohonan kepada Allah. Empat dijawab oleh Allah, meski tidak dikabulkan, kemudian diabaikan dan disuruh diam. Permohonan tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, Jalan Keluar dari Neraka
Setelah merasakan pedihnya siksaan di neraka, penghuni neraka memohon kepada Allah agar ditunjukkan jalan keluar dari neraka. Berikut permohonan mereka sebagaimana disebutkan al-Quran:

قَالُوا رَبَّنَا أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَأَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوبِنَا فَهَلْ إِلَى خُرُوجٍ مِنْ سَبِيلٍ

Artinya: Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan juga telah menghidupkan kami dua kali, lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka, adakah sebuah jalan untuk keluar (dari neraka)? [QS. al-Mu`min (22): 11]

Permohonan tersebut dijawab oleh Allah SWT:

ذَلِكُمْ بِأَنَّهُ إِذَا دُعِيَ اللَّهُ وَحْدَهُ كَفَرْتُمْ وَإِنْ يُشْرَكْ بِهِ تُؤْمِنُوا فَالْحُكْمُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيرِ

Artinya: Yang demikian itu adalah karena ketika kalian diseru untuk mengesakan Allah SWT, kalian mengingkarinya, maka keputusan (sekarang ini) adalah milik Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. [QS. al-Mu`min (22): 12]

Kedua, Mengulang Kehidupan di Dunia untuk Taat
Nasi telah menjadi bubur. Penyesalan selalu datang belakangan. Demikian halnya dengan penghuni neraka kelak. Mereka berharap dapat mengulang untuk hidup kembali ke dunia dan memperbaiki segala kesalahan. Permohonan ini diabadikan oleh Allah dalam al-Quran:

رَبَّنَا أَخِّرْنَا إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ نُجِبْ دَعْوَتَكَ وَنَتَّبِعِ الرُّسُلَ

Artinya: Ya Tuhan kami, tangguhkanlah (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sejenak, niscaya kami akan memenuhi seruan-Mu dan mengikuti para Rasul-Mu. [QS. Ibrâhîm (14): 44]

Permohonan tersebut dijawab oleh Allah SWT:

أَوَلَمْ تَكُونُوا أَقْسَمْتُمْ مِنْ قَبْلُ مَا لَكُمْ مِنْ زَوَالٍ

Artinya: Bukankah kalian pernah bersumpah bahwa sekali-kali kalian tidak akan pernah binasa. [QS. Ibrâhîm (14): 44]

Ketiga, Mengulang Kehidupan di Dunia untuk Beramal Shalih
Selain berjanji akan mengikuti seruan Allah dan Rasul-Nya sebagaimana di atas, mereka juga berjanji akan melakukan perbuatan-perbuatan yang baik (‘amal shâlih). Hal ini diabadikan dalam surat Fâthir: 

رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ

Artinya: Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan amal shalih, berbeda dengan apa yang telah kami kerjakan sebelumnya. [QS. Fâthir (35): 37]

Permohonan tersebut dijawab oleh Allah SWT:

أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ

Artinya: Dan apakah kami tidak memanjangkan umurmu dengan masa yang cukup untuk berfikir bagi orang-orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kalian pemberi peringaran? Karena itu, rasakanlah (adzab kami), maka tidak ada penolong bagi orang-orang yang zalim. [QS. Fâthir (35): 37]

Keempat, Mengulang Kehidupan di Dunia untuk Tidak Kafir
Mereka juga berjanji untuk tidak akan mengulangi kekufurannya. Bahkan, mereka menegaskan kalau saja mereka mengulangi kekufurannya, berarti mereka menganiaya diri. Hal ini diabadikan Allah dalam surat al-Mu’minûn ayat 106-107:

رَبَّنَا غَلَبَتْ عَلَيْنَا شِقْوَتُنَا وَكُنَّا قَوْمًا ضَالِّينَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْهَا فَإِنْ عُدْنَا فَإِنَّا ظَالِمُونَ

Artinya: Wahai Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan dan kami adalah orang-orang yang tersesat. Wahai Tuhan kami, keluarkanlah kami dari neraka (dan kembalikan kami ke dunia). Jika kami kembali (juga kepada kekafiran), maka sesungguhnya kami termasuk orang-orang yang aniaya. [QS. al-Mu`minûn (23): 106-107]

Permohonan tersebut dijawab oleh Allah:

قَالَ اخْسَئُوا فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ

Artinya: Allah berfirman: Tinggallah kalian di dalamnya dengan hina dan jangan bicara lagi. [QS. al-Mu`minûn (23): 108]

Kelima, Diabaikan Allah SWT
Jika ada permohonan yang kelima, maka Allah SWT tidak akan menjawabnya. Dan, inilah puncak siksaan. Sebab, jika sebuah permohonan ditolak, itu artinya Allah masih mau menjawab. Sedangkan, jika diabaikan tanpa jawaban, maka ini adalah puncak rasa sakit. Apalagi jika yang mengabaikan adalah Allah. Na’ûdzubillâh.

Penjelasan Muhammad bin Ka’b di atas juga dikutip dalam sejumlah kitab tafsir, di antaranya dalam ad-Dur al-Mantsûr karya Jalaluddîn as-Suyûthî (w. 911 H) dan Tafsîr al-Marâghî karya Ahmad bin Musthafâ al-Marâghî (w. 1371 H).Wallâhu a’lam. (Ahmad Rizal/SoulKajian)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *