Kebijakan Zalim Namrûd yang Berujung Adu Argumen dan Penyiksaan

Dalam surat al-Baqarah ayat 258, Allah SWT mengabadikan keangkuhan Raja Namrûd yang mengklaim dirinya bisa menghidupkan dan mematikan sebagai berikut:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْراهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قالَ إِبْراهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ

Artinya: Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Nabi Ibrâhîm mengenai Tuhannya karena Allah telah memberikan segenggam kerajaan kepada orang itu. Ketika Nabi Ibrahim mengatakan, “Tuhanku ialah Yang Maha menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan.” [QS. al-Baqarah (2): 258]

Orang yang mendebat Nabi Ibrâhîm AS dalam ayat tersebut adalah Raja Namrûd dan hal yang melatarbelakanginya adalah kebijakan penimbunan makanan yang kemudian diprotes oleh Nabi Ibrâhîm AS.

Sebagaimana dikisahkan di antaranya oleh Abû al-Laits al-Samarqandî (w. 373 H) dalam tafsirnya, Bahr al-‘Ulûm, bahwa suatu ketika Namrûd menerapkan kebijakan menimbun makanan. Barang siapa yang menginginkan makanan, ia harus datang menghadapnya sambil bersujud. Tidak hanya itu, makanan itu pun tidak diberikan secara cuma-cuma.

Lalu, Nabi Ibrâhîm masuk ke istana dan menghadap kepada raja tanpa bersujud. “Mengapa Anda tidak sujud?” tanya Namrûd. “Saya tidak sujud kecuali kepada Tuhanku,” jawab Nabi Ibrâhîm yang kemudian berlanjut menjadi perdebatan sengit.

“Siapakah Tuhanmu? tanya Namrûd. “Tuhanku adalah zat yang Maha menghidupkan dan mematikan,” sanggah Nabi Ibrâhîm. Namrud segera memotong jawaban tersebut, “Akulah yang menghidupkan dan mematikan.”

Nabi Ibrâhîm kemudian meminta Namrûd untuk membuktikan ucapannya. “Bagaimana engkau menghidupkan dan mematikan?” tantang Nabi Ibrahim. Lalu, dua orang didatangkan di hadapan Raja Namrûd. Salah seorang di antaranya dibunuh oleh raja yang kejam itu dan seorang lainnya dibiarkan hidup. Lantas Namrud berkata: “Aku telah mematikan salah seorang dari mereka berdua dan aku hidupkan yang satunya.”

Pembuktian itu disangkal oleh Nabi Ibrâhîm, “Engkau hanya membiarkan orang yang hidup tetap hidup dan tidak menghidupkan yang mati. Tapi, Tuhanku bisa menghidupkan orang yang mati.”

Tidak hanya itu. Nabi Ibrâhîm mendatangkan argumen yang lebih kuat lagi, yaitu dengan menantang Namrûd untuk mengubah terbitnya matahari menjadi dari arah barat yang diabadikan dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat 258:

….فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ…

Artinya: …sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat

Setelah mati kutu dan tidak bisa mematahkan argumen Nabi Ibrâhîm, Namrûd merancang agenda lain: menyiksa Nabi Ibrahim, yang kisahnya sangat populer itu. Kalah adu argumen berujung pada penyiksaan fisik, as-Samarqandî berkomentar:

هكَذَا عَادَةُ الْجَباَبِرَةِ أَنَّهُمْ إِذَا عُوْرِضُوْا بِشَيْءٍ وَعَجَزُوْا عَنِ الْحُجَّةِ، اشْتَغَلُوْا باِلْعُقُوْبَةِ

Artinya: “Demikianlah kebiasaan penguasa yang kejam. Jika dihadapkan pada sebuah persoalan dan kalah argumentasi, mereka mengubah strategi dengan melakukan penyiksaan.” Wallâhu a’lam. (Ahmad Rizal/SoulKajian)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *