Dialog Sang Mukâsyif dan Iblis di Padang Arafah

Al-Kasyf, sebagaimana dikemukakan az-Zabîdî (w. 1205H./1790 M.) dalam Ittihâf  as-Sâdat al-Muttaqîn Syarh Ihyâ`, adalah keadaan terbukanya tabir hijab di hadapan Yang Maha Haqq (al-ladzîna kûsyifa lahum ‘an hadhrat al-haqq). Orang yang sampai pada posisi (maqâm) ini disebut ahl al-kasyf atau mukâsyif. Bentuk pluralnya adalah mukâsyifîn atau para mukâsyif.

Suatu ketika seorang Mukâsyif melihat Iblis di padang Arafah. Iblis itu berwujud seseorang yang kurus, pucat, menangis dan punggungnya membungkuk. Melihat hal ini, Mukâsyif itu menanyainya, “Mengapa kamu menangis?”

“Orang-orang berdatangan untuk menunaikan ibadah haji dengan ketulusan niat, bukan karena motivasi ekonomi. Yang demikian ini membuatku sedih,” jawab iblis lesu.

Mukâsyif itu melanjutkan pertanyaannya, “Mengapa badanmu kurus kerontang?” Iblis itu menjawab, “Pekik suara kuda yang berada di jalan Allah telah membuatku kurus kering kerontang. Jika pekik suara kuda itu berada di jalanku maka itu menggembirakanku.”

“Lantas, mengapa kamu tampak pucat?” tanya Sang Mukâsyif lagi. “Perbuatan tolong menolong di antara jama’ah dalam hal ketaatan kepada Allah telah menyebabkan wajahku pucat. Jika mereka tolong-menolong dalam kemaksiatan maka ini yang aku sukai,” jawab Iblis.

Pertanyaan terakhir dari Sang Mukâsyif adalah tentang punggung si Iblis yang tampak membungkuk, “Mengapa punggungmu membungkuk?” Iblis itu menjawab, “Itu dikarenakan permohonan seorang hamba kepada Tuhannya agar meninggal dalam keadaan husnul khatimah.”

Kisah di atas terdapat di antaranya dalam Qût al-Qulûb fî Mu’amalât al-Mahbûb karya Abû Thâlib al-Makkî (w. 386 H./996 M.) dan Ihya ‘Ulûm ad-Dîn karya al-Ghazâlî (w. 505 H./1111 M.) Wallâhu a’lam (Ahmad Rizal/SoulKajian)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *