Fikih Kurban Singkat (Perspektif 4 Madzhab)

Definisi

Ibadah Kurban adalah ibadah berupa menyembelih binatang tertentu dengan niat mendekatkan diri kepada Allah dan dilakukan pada waktu tertentu.

Dengan demikian, tidak semua binatang boleh dijadikan Kurban. Demikian pula, tidak setiap saat Kurban bisa dilaksanakan. Menyembelih binatang sesuai ketentuan syari’ah namun selain yang ditentukan secara khusus dalam Kurban dan dilaksanakan di luar waktu yang juga telah ditentukan dalam Kurban kemudian membagi-bagikannya kepada sesama adalah boleh tetapi bukan termasuk Kurban. Yang demikian ini termasuk sedekah biasa yang juga berpahala.

Hukum Berkurban

Dalam hal ini, Fukaha terbagi menjadi 2 kelompok besar; 1) berpendapat wajib setiap tahun bagi orang yang menetap di negerinya, dan 2) berpendapat sunnah mu`akkadah. Yang pertama adalah pendapat Hanafiyah dan yang kedua adalah pendapat mayoritas Fukaha (Jumhûr Fuqahâ`).

Lebih detil, Syâfi’iyah berpendapat bahwa hukum berkurban adalah sunnah ‘ain (sunah personal) bagi setiap individu sekali seumur hidup dan sunnah kifâyah (kesunnahan bisa diraih melalui perwakilan) bagi setiap keluarga.

Sebagaimana ibadah Sunnah yang lain, status hukum Kurban juga bisa naik menjadi wajib sebab terwujudnya nadzar, seperti: jika anak saya diterima di perguruan tinggi, maka saya akan berkurban sapi. Ketika hal itu terwujud, maka hukum Kurban baginya menjadi wajib.

Binatang Kurban

Fukaha sepakat bahwa binatang yang boleh dijadikan Kurban adalah binatang ternak yang meliputi unta, sapi dan domba dengan segala jenisnya. Termasuk dalam hal ini adalah kerbau dan kambing. Dengan semikian, binatang liar seperti sapi hutan tidak bisa dijadikan sebagai binatang Kurban.

Standard usia binatang kurban di dalam literatur fikih sering dinyatakan dengan istilah musinnah, yaitu binatang yang giginya telah tanggal (poel, Jawa). Usia musinnah binatang itu sendiri tidak sama. Namun, rata-ratanya adalah sebagai berikut: unta (5-6 tahun), sapi atau kerbau (minimal 2 tahun), dan kambing (1-2 tahun)

Selain itu, binatang Kurban harus bebas dari cacat dan penyakit sebagaimana dinyatakan dalam hadits dari Barra`, yaitu: buta sebelah atau buta sama sekali, sakit parah, pincang parah, dan sangat kurus.

Fukaha juga sepakat bahwa Kurban unta dan sapi (termasuk kerbau) boleh berasal dari 7 orang patungan. Sedangkan kambing harus dari 1 orang.  

Pelaku Kurban

Orang yang berkurban adalah muslim dan baligh serta memiliki kelebihan harta untuk diri dan keluarganya sampai berakhirnya Hari Tasyrîq (tanggal 13 Dzul Hijjah). Meski demikian, tidak diwajibkan bagi orang yang berkurban untuk menyembelih sendiri kurbannya.

Jika penyembelihan dilakukan orang lain, maka upah penyembelihan tidak boleh diambilkan dari hewan Kurban yang disembelihnya itu. Meski demikian, penyembelih tetap boleh menerima dagingnya tapi bukan sebagai upah.

Waktu Pelaksanaan Kurban

Kurban dilaksanakan di waktu yang telah ditentukan. 4 Madzhab sepakat bahwa penyembelihan Kurban yang dilaksanakan sebelum pelaksanaan Shalat ‘Id adalah tidak sah. Jika Kurban disembelih sebelum pelaksanaan Shalat ‘Id, maka ia berstatus sebagai sembelihan biasa dan berpahala sedekah jika disedekahkan.

Fukaha juga sepakat bahwa waktu yang paling utama melaksanakan Kurban adalah setelah pelaksanaan Shalat ‘Idul Adha hingga sebelum matahari tergelincir pada hari tersebut. Sedangkan batas akhir pelaksanaan Kurban adalah tenggelamnya matahari pada tanggal 12 Dzul Hijjah (Mayoritas Madzhab) dan tanggal 13 Dzul Hijjah (Syâfi’iyah).

Memotong Kuku dan Rambut

Perihal memotong kuku dan rambut serta anggota tubuh yang lain bagi orang yang hendak berkurban ketika memasuki tanggal 10 Dzul Hijjah, Fukaha berbeda pendapat.

Menurut Imam Abû Hanîfah tidak makruh. Menurut Imam Syâfi’i dan para pengikutnya makruh tanzîh dan tidak sampai pada haram. Namun, sebagian pengikut Imam Syâfi’i berpendapat haram. Sedangkan pendapat Imam Mâlik terdapat beberapa versi riwayat: makruh, tidak makruh, haram untuk kurban sunnah dan tidak haram untuk kurban wajib.

Distribusi Daging Kurban

Pada dasarnya, sasaran utama distribusi daging hewan Kurban adalah fakir miskin. Meski demikian, tidak ada keharusan jumlah tertentu. Yang penting ada porsi untuk mereka. Baik juga dibagi menjadi 3 bagian: fakir miskin, hidangan, dan untuk keluarga yang berkurban. Ketentuan ini berlaku untuk Kurban Sunnah.

Jika Kurban wajib, maka seluruh dagingnya harus dibagikan/disedekahkan. Orang yang berkurban berikut keluarganya tidak berhak mendapatkannya.  

Penutup

Semoga bermanfaat. Amin. Wallâhu a’lam. (Ahmad Rizal/SoulKajian)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *