Tarwiyah: Ragam Pendapat Sejarah dan Penamaan

Tanggal 8 Dzul Hijjah dikenal dengan nama Hari Tarwiyah. Di antara makna tarwiyah adalah merenung atau berpikir dan siraman. Mengapa disebut demikian? Bagaimana sejarah yang melatarbelakanginya? Berikut ini beberapa pendapat mengenainya yang dirangkum Fakhruddîn ar-Râzî (w. 606 H./1210 M.) dalam Mafâtîh al-Ghaib atau yang populer dengan nama at-Tafsîr al-Kabîr.

Secara istilah, tarwiyah digunakan untuk menyebut nama hari ke-8 bulan Dzul Hijjah. Sedangkan secara bahasa, tarwiyah mempunyai beberapa makna. Di antaranya adalah, pertama, ia berasal dari rawâ-yarwî-tarwiyatan yang bermakna tafakkara atau berpikir. Kedua, ia berasal dari rawâhu min al-mâ` yarwîhi yang berarti memberikan siraman dengan air sebab kehausan.

Terkait pendapat pertama (tarwiyah bermakna berpikir atau merenung), setidaknya ada 3 pendapat perihal peristiwa yang melatarbelakanginya.

Pertama, merujuk kepada kisah Nabi Adam AS. Ketika Nabi Adam diperintah Allah untuk membangun Baitullah, ia memikirkan (tafakkur/tarwiyah) upahnya. Ia berkata: “Ya Tuhanku, setiap pekerjaan ada upahnya. Apa upah atas pekerjaanku?” Allah menjawab: “Jika engkau mengelilinya untuk thawaf, aku mengampuni dosa-dosamu sejak putaran pertama.”

Kemudian Nabi Adam mengajukan permohonan: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku”. Allah meng-ijâbah permohonan tersebut: “Aku ampuni dosa-dosa anak turunmu jika mereka melakukan thawaf di Baitullâh.” Nabi Adam mengajukan permohonan lagi: “Ya Tuhanku, tambahkanlah.”

Allah mengabulkannya lagi: “Aku ampuni dosa-dosa anak turunmu yang mengesakan Aku yang dimohonkan ampunan oleh orang-orang yang melakukan thawâf.” Nabi Adam AS kemudian berkata: “Ya Tuhanku, Engkaulah zat yang mencukupiku.”

Kedua, mengacu kepada kisah Nabi Ibrâhîm AS. Peristiwa mimpi yang dialami Nabi Ibrâhîm AS untuk menyembelih puteranya sudah sangat populer. Setelah mengalami mimpi itu, Ibrâhîm merenung (tafakkur/tarwiyah) perihal apakah ia benar dari Allah atau dari setan. Kemudian, ia meyakininya di hari berikutnya, yang kemudian dikenal dengan hari ‘Arafah, dan melaksanakannya pada hari berikutnya lagi.

Ketiga, terkait dengan pelaksanaan ibadah haji. Pada hari tersebut, penduduk Mekah keluar menuju Mina. Saat itu, mereka merenung/memikirkan (yarwûna) permohonan apa yang hendak disampaikan di padang Arafah esok hari.

Sedangkan terkait pendapat kedua (tarwiyah bermakna siraman), juga ada beberapa pendapat perihal sejarah yang melatarbelakanginya.

Pertama, merujuk kepada peristiwa di seputar ibadah haji. Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan bersama binatang-binatang mereka, mereka beristirahat dan memberi minum (yarwûna) binatang-binatang tersebut.

Kedua, mirip dengan pendapat sebelumnya. Hanya saja, menurut pendapat ini, penamaan tarwiyah dikaitkan kepada perbekalan air (yatazawwadûna al-mâ`) dalam rangka menuju Arafah.

Ketiga, merujuk kepada kucuran dan siraman rahmat Allah kepada para pendosa. Menurut pendapat ini, orang yang melakukan dosa dianalogikan seperti orang yang sedang kehausan. Mereka mendatangi lautan rahmat Allah untuk mendapatkan siraman.

Demikian beberapa pendapat seputar sejarah dan nama Tarwiyah yang dilekatkan kepada hari ke-8 bulan Dzul Hijjah. Versi lain mengenainya, tentu masih ada. Wallâhu a’lam (Ahmad Rizal/SoulKajian)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *