Backpacker ke Baitullâh

Lumrahnya, jika hendak melakukan perjalanan jauh, seseorang harus menyiapkan dan membawa bekal yang meliputi di antaranya keperluan konsumsi, akomodasi dan transportasi. Semakin panjang dan jauh perjalanan yang akan ditempuh, semakin banyak bekal yang harus dipersiapkan dan dibawa.

Orang yang melakukan perjalanan dengan bekal secukupnya biasa disebut dengan pengembara modal nekat atau di kalangan generasi milenial sering dikenal dengan sebutan backpacker.

Suatu ketika Ibrâhîm bin Adham (w. 160 H/777 M) berjalan menuju Baitullâh tanpa mengendarai kendaraan. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang pengendara unta dari kalangan Arab Badui. “Wahai orang tua, Anda hendak ke mana?” tanya pengendara unta itu. “Aku menuju Baitullâh,” jawab Ibrâhîm.

“Anda seperti orang gila. Anda menempuh perjalanan yang sangat jauh tanpa mengendarai kendaraan dan tanpa perbekalan,” kata pengendara unta itu keheranan.

“Sesungguhnya aku membawa cukup banyak kendaraan tapi Anda tidak melihatnya,” jawab Ibrâhîm. “Apakah kendaraan yang anda maksud?” tanya pengendara unta itu kebingungan.

“Jika aku ditimpa ujian, kesabaran menjadi kendaraanku. Jika aku mendapat nikmat, rasa syukur menjadi kendaraanku. Jika Tuhan telah memberikan keputusannya kepadaku, rasa ridha (menerima apapun pemberian Allah) menjadi kendaraanku. Dan, jika nafsuku mengajakku melakukan sesuatu, aku segera mengingatkan diri bahwa sisa umurku tidak lebih banyak dari umur yang telah berlalu,” jawab Ibrâhîm.

Mendengarkan jawaban itu, si pengendara unta terkagum dan berkata: “Berjalanlah dengan izin Allah karena sesungguhnya Anda adalah pengendara yang sesungguhnya dan aku adalah pejalan kaki.” Wallâhu a’lam (Ahmad Rizal/SoulKajian)

Referensi: Mafâtîh al-Ghaib atau at-Tafsîr al-Kabîr karya Fakhruddîn ar-Râzî (w. 606 H)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *