Saat Imam Abû Hanîfah Disangka Rajin Tahajud

Bagaimana perasaan kita jika prasangka orang lain terhadap kebaikan kita melebihi apa yang sebenarnya terjadi? Lumrahnya, kita akan merasa senang. Bagaimana tidak, kita hanya sedekah satu juta tapi dikira satu milyar, kita hanya khatam Al-Quran setahun sekali tapi dikira sebulan sekali, misalnya.

Yang demikian ini pernah dialami oleh Imam Abû Hanîfah. Bagaimana reaksi Imam Abû Hanîfah saat hal itu terjadi pada dirinya?

Dikisahkan oleh Imam Al-Ghazalî (w. 505 H) dalam Ihyâ`, bahwa Abû al-Juwairiyah telah bersama Imam Abû Hanîfah (w. 150 H) selama enam bulan. Selama itu pula Abû al-Juwairiyah merasa telah menyaksikan keseharian Sang Imam secara detil. Di antara hal yang diamatinya adalah ibadah malam Sang Imam.

Suatu ketika Abû al-Juwairiyah berkata: Aku telah bersama Abû Hanîfah selama enam bulan. Selama itu pula aku tidak melihat beliau meletakkan lambungnya di atas bantal di malam hari.”

Perkataan Abû al-Juwairiyah ini kemudian didengarkan oleh sejumlah orang. Hingga, suatu ketika Imam Abû Hanîfah berjalan melewati mereka dan mendengar mereka berkata: “Orang ini (Imam Abû Hanîfah) senantiasa menghidupkan seluruh malamnya untuk beribadah.”

Padahal, yang paling tahu kebiasaan ibadah seseorang adalah dirinya sendiri. Dan, yang sebenarnya terjadi adalah Imam Abû Hanîfah hanya menghidupkan separuh malam untuk beribadah, bukan seluruh malam.

Mendengar sangkaan orang-orang itu, Imam Abû Hanîfah pun berkata: “Sesungguhnya aku merasa malu. Aku disebutkan telah melakukan kebaikan yang sebenarnya tidak ada padaku.”

Tidak hanya malu, setelah peristiwa ini, Imam Abû Hanîfah menghidupkan seluruh malamnya untuk beribadah. Demikian Imam Abû Hanîfah, bagaimana dengan kita? Wallâhu a’lam (Ahmad Rizal/SoulKajian)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *