Pasar Jumat dan Ulama di Surga

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَسُوقًا، يَأْتُونَهَا كُلَّ جُمُعَةٍ، فَتَهُبُّ رِيحُ الشَّمَالِ فَتَحْثُو فِي وُجُوهِهِمْ وَثِيَابِهِمْ، فَيَزْدَادُونَ حُسْنًا وَجَمَالًا، فَيَرْجِعُونَ إِلَى أَهْلِيهِمْ وَقَدِ ازْدَادُوا حُسْنًا وَجَمَالًا، فَيَقُولُ لَهُمْ أَهْلُوهُمْ: وَاللهِ لَقَدِ ازْدَدْتُمْ بَعْدَنَا حُسْنًا وَجَمَالًا، فَيَقُولُونَ: وَأَنْتُمْ، وَاللهِ لَقَدِ ازْدَدْتُمْ بَعْدَنَا حُسْنًا وَجَمَالًا “

Terjemah

Dari Anas bin Malik ra, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda:

Sesungguhnya di surga terdapat sebuah pasar. Orang-orang mendatanginya setiap hari Jumat. Kemudian angin dari arah kiri berhembus menerpa wajah dan pakaian mereka sehingga membuat mereka semakin indah dan menawan.

Kemudian mereka kembali pulang kepada keluarga mereka. Keluarga mereka berkata: “Demi Allah, kalian semakin tampak indah dan menawan. Mereka menjawab: “Demikian juga dengan kalian. Demi Allah, kalian juga semakin tampak indah dan menawah.

Hadits di atas di antaranya diriwayatkan dalam Shahîh Muslim.

Penjelasan

Imam an-Nawawî asy-Syâfi’î (w. 676 H.) dan As-Suyûthî asy-Syâfi’î (w. 911 H.) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan pasar dalam hadits di atas adalah tempat berkumpul bagi penduduk surga sebagaimana mereka berkumpul ketika di dunia. Sedangkan yang dimaksud dengan “penduduk surga mendatangi pasar tersebut setiap hari Jumat” adalah perkiraan bahwa mereka berkumpul di pasar tersebut setiap minggu sekali, bukan dalam arti setiap hari Jumat yang sebenarnya karena di sana kelak sudah tidak ada lagi matahari, tidak ada lagi siang dan malam.

Adapun yang dimaksud dengan “angin dari arah kiri” adalah angin yang di Arab dulu dijadikan sebagai penanda akan turunnya hujan (rîh al-mathar). Yang demikian ini adalah sebagai ilustrasi hembusan angin yang sejuk.

Di Surga, Tetap Butuh Ulama

Nûruddîn al-Harawî al-Qârî (w. 1014 H.) mengutip penjelasan dalam kitab al-Jâmi’ menjelaskan bahwa di surga kelak, penduduknya tetap membutuhkan ulama, dalam hal ini adalah ulamanya penduduk surga. Para ulama ini melihat Allah setiap hari Jumat. Penduduk surga menyampaikan keinginannya kepada Allah melalui para ulama tersebut. Dengan demikian, penduduk surga tetap membutuhkan ulama sebagaimana mereka membutuhkannya ketika di dunia. Wallâhu a’lam (Ahmad Rizal/SoulKajian)

Referensi:
Muslim bin Hajjâj, Shahih Muslim
Yahyâ bin Syaraf an-Nawawî, Al-Minhâj Syarh Shahîh Muslim bin Hajjâj
Jalâluddîn as-Suyûthî, Al-Dîbâj Syarh Shahîh Muslim bin Hajjâj
Nûruddîn al-Harawî al-Qârî, Mirqâh al-Mafâtîh Syarh Misykâh al-Mashâbîh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *