Ketika Nabi SAW Melihat Sebagian Kaum Muslimin Keberatan Berpuasa di Perjalanan

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ يَعْنِي ابْنَ عَبْدِ الْمَجِيدِ، حَدَّثَنَا جَعْفَرٌ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَامَ الْفَتْحِ إِلَى مَكَّةَ فِي رَمَضَانَ فَصَامَ حَتَّى بَلَغَ كُرَاعَ الْغَمِيمِ، فَصَامَ النَّاسُ، ثُمَّ دَعَا بِقَدَحٍ مِنْ مَاءٍ فَرَفَعَهُ، حَتَّى نَظَرَ النَّاسُ إِلَيْهِ، ثُمَّ شَرِبَ، فَقِيلَ لَهُ بَعْدَ ذَلِكَ: إِنَّ بَعْضَ النَّاسِ قَدْ صَامَ، فَقَالَ: «أُولَئِكَ الْعُصَاةُ، أُولَئِكَ الْعُصَاةُ»

Arti  matan: Rasulûllah SAW berangkat ke kota Makkah di bulan Ramadhan pada tahun penaklukan kota tersebut. Kala itu, Nabi SAW sedang berpuasa. Hingga tiba di Kurrâ’ al-Ghamîm. Kaum muslimin yang bersama Nabi juga turut berpuasa. Kemudian, dikatakan kepada kepada Nabi: “Orang-orang sungguh telah mulai merasa keberatan berpuasa, sedangkan mereka berpuasa karena mengikuti apa yang Anda kerjakan.” Nabi SAW kemudian meminta segelas air sesudah ‘Ashar. Lantas Nabi SAW meminumnya dan kaum muslimin pun mengarahkan pandangannya kepada Nabi SAW.

Kemudian, sebagian kaum muslimin pun membatalkan puasanya dan sebagian lainnya masih melanjutkannya (tidak membatalkan). Ketika Nabi SAW mendengar bahwa di antara kaum muslimin tersebut ada yang masih melanjutkan puasanya, Nabi SAW bersabda: “Mereka adalah para pelaku ma’shiyat, mereka adalah para pelaku ma’shiyat.” [Hadits ini diriwayatkan di antaranya dalam Shahih Muslim)

Penjelasan

Fukaha sepakat bahwa safar adalah termasuk salah satu hal yang mendatangkan dispensasi (rukhshah) untuk tidak berpuasa. Dalam hal teknis, mereka tentu berbeda pendapat.

Berdasarkan teks hadits di atas, apakah benar orang yang dalam perjalanan dan tidak mau membatalkan puasanya termasuk pelaku ma’shiyat? Bukankah Nabi SAW tegas berkata: “Mereka adalah para pelaku ma’shiyat” bahkan kalimat tersebut disabdakan hingga dua kali? Apakah maksudnya?

Berdasarkan uraian Imam al-Nawawî al-Syâfi’î dalam al-Minhâj Syarh Shahîh Muslim bin Hajjâj ketika mengomentari hadits di atas, dapat diambil beberapa catatan sebagai berikut:

Pertama, ketika Nabi SAW mendengar aduan bahwa sebagian kaum muslimin ada yang keberatan berpuasa ketika dalam perjalanan bersama beliau, beliau langsung meminta segelas air untuk digunakan berbuka (membatalkan puasa) padahal waktu belum maghrib. Ini menunjukkan bahwa membatalkan puasa dalam perjalanan ketika terjadi masyaqqat adalah boleh.

Kedua, mengenai kalimat “mereka adalah para pelaku ma’shiyat”, maksudnya adalah ketika keadaan telah mengharuskan seseorang harus membatalkan puasanya karena jika tidak membatalkan puasanya akan membahayakan diri dan ia tetap berpuasa maka yang demikian ini justru bertentangan dengan sesuatu yang hukumnya wajib, yaitu membatalkan puasa jika puasa akan membahayakan diri.

Ketiga, bagi orang yang melakukan perjalanan yang sudah mencapai kriteria boleh mengambil dispensasi untuk tidak berpuasa namun ia tetap berpuasa karena ia merasa tidak mendapati ada masyaqat sehingga ia tetap kuat berpuasa maka yang demikian ini bukan termasuk tindakan ma’shiyat sebagaimana dalam hadits di atas. Wallahu a’lam (Ahmad Rizal/SoulKajian)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *