Tafsir Akaliyah dan Tafsir Akal-akalan

Assalamu’alaikum

Pak Kyai yang terhormat, saya mendengar bahwa kita tidak boleh menafsirkan Al-Qur`an dengan menggunakan akal. Padahal, setahu saya, banyak ayat dalam Al-Qur`an yang memerintahkan manusia untuk menggunakan akalnya. Mohon penjelasannya.

Soleh
Jakarta

Jawaban

Tafsir Akaliyah dan Tafsir Akal-akalan

Dasar menafsir ayat al-Qur’an itu ada dua: Pertama, wahyu atau Nash yang diklasifikasi menjadi tiga: Pertama, ayat al-Qur’an ditafsiri dengan ayat al-Qur’an. Caranya: mengambil ayat lain yang senada, kemudian pesan ayat tersebut dijadikan penjelas atas ayat yang dikaji. Seperti kata “Rafats” (al-Baqarah:197), dimaknai “senggama” berdasar al-Baqarah:187.

Kedua, as-Sunnah, karena Nabi Muhammad SAW adalah pemegang otoritas tafsir (an-Nahl: 44), dan ketiga, ijma’ ash-shahabat, keutuhan pandangan para sahabat. Tapi, tidak semua ulama sependapat. Disiplin ulum al-Qur’an mengistilahkan pola tafsir ini dengan: Tafsîr bi an-Naql atau bi al-Manqûl atau bi al-Ma’tsûr.

Kedua, menafsir ayat al-Qur’an berdasar akal, rasio atau nalar, yang lazim diistilahkan dengan Tafsîr bi al-‘Aql, bi al-Ma’qûl atau bi ar-Ra’y. Cakupannya meliputi linguistik, filologis, tradisi, latar belakang historik, logika saintifik dan nalar analogik. Pemberdayaan nalar ini wajib  tunduk pada kaedah penafsiran yang ada untuk meminimalisir resiko kesalahan. Semua terjemahan adalah kerja akal dan kitab Tafsîr al-Jalâlain adalah salah satu contoh tafsir bi al-‘aql ini.

Tafsir akaliah diskor menjadi dua: Mahmûd (terpuji) dan Madzmûm (tercela). Terpuji karena berdasar dan tercela karena seenaknya. Contoh: besaran poligami yang ada pada ayat “matsna wa tsulatsa wa ruba’” (an-Nisâ’: 3), difahami: 2+3+4, dengan kesimpulan, bahwa seorang laki-laki boleh menikahi 9 wanita, kayak Nabi. Atau dipahami lebih dari itu: matsnâ: 2+2 = 4, tsulâsa: 3+3= 6 dan rubâ’: 4+4=8. Total=18.

Menalar hitungan macam itu tidak benar.  Setidaknya ada dua argumen: Pertama, bahwa idiom ‘udul (matsnâ, tsulâtsa, rubâ’) bukanlah jam’ (penggabungan), melainkan tafrîq (terpisah dan tersendiri). Itu kaedah bahasa arab baku. Nalar non arab tidak bisa dipakai memahami idiom arab. Bubrah jadinya. Kaedah bahasa harus merujuk pada pemilik bahasa, termasuk ‘urf al-lughah dan bukan akal-akalan. Contoh: Thawîl al-yad (panjang tangan). Dalam bahasa arab berarti suka berderma dan beramal sosial. Nabi Muhammad SAW memuji Fatimah dengan idiom itu. Sedangkan di negeri ini berarti “mencuri”. Di sinilah, kearifan melihat konteks menjadi keniscayaan.

Kedua, jika nalar akal-akalan itu berdalil mencontoh nabi, maka salah juga. Sebab berlawanan dengan nash ikhtishah atau khushusiyah. Lagian, telah ada aturan pembatasan jumlah poligami oleh al-Hadits dan praktik umat setelahnya.

Dengan demikian, apa yang dilarang Nabi soal menafsir pakai akal tersebut sungguh bukanlah tafsir akaliyah yang terpuji, melainkan tafsir akal-akalan yang tercela. Akal adalah anugerah terhebat dan bisa menghebatkan pemiliknya jika dimanfaatkan secara hebat. Sementara yang aka-akalan dalam bertafsir diancam dengan pidana neraka : Man qâl fî al-qur’ân bi ra’yih – aw bi mâ lam ya’lam -, falyatabawwa’ maq’adah min an-nâr. Allah a’lam.

Dr. KH. Musta’in Syafi’i
PP. Tebuireng, Jombang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *