Mencintai Ilahi melalui Pernikahan

Kajian Soul edisi Kelima (Rabu, 27 November 2019) bersama Dr. KHM. Luqman Hakim, M.A mengangkat tema Merasakan Cinta Ilahi dalam Pernikahan. Dalam kesempatan ini, pemimpin Majalah Sufi itu menyampaikan pentingnya menempatkan ayat-ayat dalam al-Quran pada konteksnya agar suami dan istri mengerti hak dan kewajiban masing-masing, bukan saling menuntut.

Sebagai contoh adalah ayat “wa’asyiruhunna bi al-ma’ruf (pergaulilah mereka –istri-istri- dengan baik)”. Ayat-ayat yang terkait dengan perintah pemenuhan hak-hak istri seperti ini harus dibaca oleh para suami sebagai bahan introspeksi apakah dirinya sudah memenuhi kewajibannya untuk memperlakukan istrinya dengan perlakuan yang paling baik.  

Sebaliknya, ayat-ayat seperti “al-rijal qawwamun ‘ala al-nisa` (laki-laki adalah pemimpin perempuan)”, harus dipahami sebagai ayat yang harus dibaca oleh para istri, bukan suami. Ayat ini tidak boleh dijadikan sebagai legitimasi para suami untuk bersikap diktator kepada istrinya.

Mengenai bagaimana seorang suami memperlakukan istrinya, Nabi Adam AS sebagai manusia pertama sudah memberikan teladan yang patut dicontoh. Sebagai seorang Nabi, Adam adalah musuh berat bagi iblis. Iblis pun menyadarinya. Oleh karenanya, pintu masuk Iblis untuk menggelincirkan Adam adalah istrinya, Hawa.

Hingga, mereka berdua tergoda untuk melanggar perintah Allah agar tidak mendekati buah terlarang. Hukuman yang diperikan Allah pun bukan kepalang. Mereka berdua harus diusir dari surga dan diturunkan ke bumi. Namun, Nabi Adam tidak pernah sekalipun menyalahkan istrinya.   

Tujuan menempatkan ayat-ayat sesuai konteksnya tersebut adalah agar tercipta hubungan suami-istri yang saling menerima dan mengerti hak dan kewajibannya masing-masing, bukan hubungan yang saling menuntut dan menguasai.

Selanjutnya, pengasuh Ma’had ‘Aly Raudhatul Muhibbin, Bogor, tersebut menyampaikan pentingnya pendidikan ruhani dalam keluarga. Inilah rahasia mengapa hal yang pertama diajarkan Allah kepada Nabi Adam AS adalah pelajaran mengenai nama-nama (asma`) Allah. Pelajaran penting dari peristiwa tersebut adalah agar manusia senantiasa melihat dan menyaksikan Allah di balik benda-benda yang dilihatnya. Jika manusia tidak diajarkan untuk melihat dan menyaksikan Allah di balik dunia ini, maka inilah awal mula materialisme.

Lebih lanjut, pakar tasawuf tersebut menjelaskan, untuk membentuk generasi ilahiyah bisa dimulai sejak dari dalam kandungan, bahkan sebelumnya. Sebelum melakukan hubungan suami-istri, keduanya dianjurkan bersuci. Jika Allah menghendaki menjadi buah hati, diharapkan ia menjadi calon jabang bayi yang berdzikir sejak masih berupa janin di dalam kandungan. Langkah berikutnya, setelah janin terlahir ke dunia adalah dengan mengajarkan lafazh “Allah..Allah..Allah” kepadanya. Kiai Luqman menutup penjelasannya dengan mengatakan bahwa kedua orang tuanya harus sebisa mungkin berusaha agar kalimat pertama yang bisa diucapkan oleh si anak adalah lafazh “Allah…Allah…Allah”. (Ahmad Rizal/SoulKajian).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *