Merasakan Hikmah Perbedaan Pandangan Politik dan Keagamaan

Di antara hal yang tidak bisa tidak dihindari dalam khazanah keislaman adalah persoalan perbedaan pendapat. Ia selalu ditemukan di berbagai disiplin ilmu keislaman, mulai soal akidah hingga fikih. Persoalan perbedaan tersebut, terasa membawa dampak jika dikaitkan dengan persoalan politik. Pada Kajian Soul edisi ketiga (Rabu, 25 September 2019), Soul mengangkat masalah ini menjadi topik kajian dengan nara sumber Dr. KH. Abdullah Syamsul Arifin dari Jember.  

Sebagai pembuka, kiai muda yang akrab dipanggil Gus Aab tersebut mengutip sebuah hadits mengenai akan munculnya kelompok-kelompok dalam Islam sebagai berikut:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو t قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ r: “إِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي”. (رواه الترمذي (٢٥٦٥) وقال: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ ).

Artinya: dari ‘Abdullah bin ‘Amr ra berkata: Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 72 kelompok. Sedangkan umatku akan terpecah menjadi 73 kelompok, yang semuanya akan masuk neraka kecuali satu kelompok. Shahabat bertanya: Siapakah mereka, wahai Rasulallah? Nabi menjawab: Mereka adalah kelompok yang menetapi jalanku dan jalan para pengikutku (shahabatku). [Hadits ini diriwayatkan oleh al-Turmudzi nomor 2565. Menurutnya, status hadits tersebut adalah Hasan Gharib]

Selanjutnya, ia mengatakan bahwa terkait masalah perbedaan pandangan politik, setidaknya ada dua teori besar mengenai mana yang melatarbelakangi perbedaan tersebut, yaitu pertama, perbedaan pandangan keagamaan mempengaruhi pandangan dan sikap politik, dan kedua, perbedaan pandangan politik mempengaruhi pandangan keagamaan.

Menarik untuk disimak, Gus Aab mengutip penyataan Abû al-Hasan al-Asy’ari dalam Maqâlât al-Islamiyyîn sebagai berikut:

أَوَّلُ مَا حَدَثَ مِنَ اْلاِخْتِلاَفُ بَيْنَ الْمُسْلِمِيْنَ بَعْدَ نَبِيِّهِمْ r اِخْتِلافُهُمْ فِي اْلإِمَامَةِ

Artinya: Perbedaan pendapat yang pertama kali terjadi di kalangan kaum Muslimin setelah Nabi r wafat, adalah perbedaan dalam soal suksesi kepemimpinan.

Pernyataan Abû al-Hasan al-Asy’ari di atas seakan mengonfirmasi sejarah politik dunia Islam pasca wafatnya Nabi saw yang penuh dinamika.

Selanjutnya, Gus Aab memaparkan situasi politik pasca wafatnya Nabi SAW. Setelah Abu Bakar berpidato meyakinkan kaum muslimin yang dilanda ketidakpercayaan akan kepergian Nabi SAW bahwa makhluk paling mulia tersebut telah benar-benar wafat, shahabat Anshar hendak membaiat Sa’d bin ‘Ubadah di Saqifah Bani Sa’idah sebagai Khalifah. Shahabat Muhajirin kemudian mendatangi Saqifah tersebut karena tidak sepakat. Setelah terjadi tarik-ulur, kaum muslimin kemudian sepakat membaiat Abu Bakar ra sebagai Khalifah.

Saat Abu Bakar sakit, ia menyarankan kaum muslimin agar memilih Khalifah yang akan menjadi penggantinya. Namun, kaum muslimin menyerahkan penggantinya kepada Abu Bakar ra. Lantas, Abu Bakar mencari sosok calon penggantinya dengan dua kriteria: tegas dan lembut. Kriteria ini ada pada diri Umar bin Khaththab. Ia memang dikenal sebagai sosok yang tegas namun mudah menangis jika melihat orang tak berdaya. Setelah Abu Bakar Wafat, kaum muslimin pun membaiat Umar sebagai Khalifah.

Setelah menjabat sebagai Khalifah, ia pun akhirnya menyiapkan proses pemilihan khalifah yang akan menggantikan dirinya. Ia membentuk tim formatur beranggotakan 6 orang: ‘Utsman bin ‘Affan, ‘Ali bin Abi Thalib, ‘Abdurahman bin Auf, Sa’d bin Abi Waqqash, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, dan Abdullah bin Umar. Hanya saja, Abdullah bin Umar yang merupakan anak Sang Khalifah tidak punya hak untuk dipilih. Setelah melalui sejumlah proses politik, akhirnya shahabat membaiat Utsman bin Affan.

Selanjutnya, terjadi pembunuhan terhadap Khalifah Utsman bin Affan oleh kelompok pemberontak. Mereka kemudian membujuk ‘Abdullah bin Umar agar bersedia dibai’at sebagai khalifah, tetapi ia menolak. Mereka kemudian meminta ‘Ali bin Abi Thalib untuk bersedia dibai’at sebagai khalifah. Setelah sempat menolak, Ali akhirnya bersedia dibaiat dengan syarat dilakukan secara terbuka oleh kaum muslimin.

Dalam peristiwa itu, kelompok pemberontak membawa paksa Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam untuk membai’at Ali. Sebagian shahabat di Madinah seperti Sa’ad bin Abi Waqqash, Ibnu Umar, Ahban bin Shaifi dan Muhammad bin Maslamah tidak bersedia membai’at Ali, karena menunggu suasana tenang dan terkendali.

Lebih lanjut, Gus Aab menerangkan bahwa setidaknya terdapat 3 faktor yang menjadi penyebab lahirnya kelompok-kelompok atau firqah-firqah dalam Islam. Pertama, terjadinya al-fitnah al-kubra yakni terbunuhnya Khalifah ‘Utsman. Kedua, adanya berbagai intrik politik yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi yang menyusup ke dalam komunitas umat Islam, yang dikomandani oleh Abdullan bin  Saba’. Ketiga, terjadinya perang saudara pada masa Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib, yaitu perang Jamal dan perang Shifin.

Perang Shifin kemudian berakhir dengan sebuah peristiwa yang dikenal dengan Tahkim, yang memunculkan sebuah kelompok yang dikenal dengan Khawarij. Kelompok inilah yang merencanakan pembunuhan terhadap beberapa tokoh yang dianggap tidak sejalan dengan pandangan politiknya: Abdurrahman bin Muljam mendapat tugas membunuh Ali, Barok Ibnu Abdillah At-Tamimi mendapat mandat membunuh Muawiyah, dan Amr Ibnu Bakar At-Tamimi dipercaya untuk membunuh Amr Bin Ash.  

Kelompok Khawarij tersebut mulanya adalah pendukung Ali. Namun, karena Ali dianggap melakukan kesalahan fatal karena menerima Tahkim. Di mata Khawarij, Ali dan Mu’awiyah telah Kafir. Sementara itu, sebagai pembanding atas kelompok ini, muncullah kelompok Syiah yang tetap setia mendukung Ali. Di tengah-tenga dua kelompok ini, muncul juga kelompok Murjiah.

Bagi kelompok Khawarij, pelaku dosa besar adalah kafir sedangkan Kelompok Murjiah tetap menganggapnya sebagai muslim.

Kemudian muncullah kelompok yang dipelopori oleh Washil bin ‘Atha` yang dikenal dengan nama Mu’tazilah. Menurut kelompok ini, seorang mukmin yang melakukan dosa besar tidak bisa disebut sebagai muslim secara mutlak, tidap pula kafir secara mutlak. Ia berada di antara dua posisi, bayn al-manzilatain.

Diikuti kemudian dengan lahirnya Kelompok Asya’irah yang merupakan pengikut Abu al-Hasan al-Asy’ari dan Kelompok al-Maturidiyah yang merupakan pengikut Abu Manshur al-Maturidi. Kedua kelompok ini pada akhirnya sering dianggap sebagai genealogi Ahlussunnah wal Jama’ah.

Terhadap sejumlah konflik politik dan teologis di atas, sebagai rekomendasi sekaligus penutup, sebuah maqâlah patut direnungkan: jika bersatu dalam sebuah kesepakatan, al-ittihâd fi al-ittifâq, sulit dicapai, maka pilihan terbaik dan realistis adalah bersatu dalam perbedaan, al-ittihâd fi al-ikhtilâf. (Ahmad Rizal AF/SoulKajian)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *